Kamis, 19 Maret 2009

MENGELOLA HATI NURANI DENGAN BERBUAT BAIK

Berdasarkan artikel di kuliahbersama.com, Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Salah satu cara mengelola hati nurani adalah dengan selalu menjernihkan hati kita dan selalu berbuat baik. Salah satu proses dalam menjernihkan hati kita adalah berusaha menghindari prasangka negatif baik dalam hati maupun ucapan. Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengetahui suatu perbuatan itu baik atau tidak?




Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa berbuat baik itu dihasilkan dari pikiran yang baik pula. Selain itu, tindakan dapat dikatakan baik atau tidak juga dipengaruhi oleh berbagai informasi yang diterima dari luar diri kita. Informasi-informasi tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu : dari budaya, keluarga, agama, tradisi, buku, dan pakar. Segala informasi dari luar yang kita terima tersebut memang akan mempengaruhi keputusan yang akan kita ambil dan tindakan yang akan dilakukan, tetapi berbagai faktor dari luar sesungguhnya tidak mencerminkan diri pribadi kita. Hati dan pikiran yang ada dalam diri kita itulah yang mengidentifikasikan diri kita. Itulah mengapa menyalahkan faktor luar adalah tindakan yang kurang bijaksana.
Oleh karena itu, ingatlah bahwa kita adalah raja dari hati dan pikiran kita sendiri. Kita dapat menentukan respons yang akan kita ambil dari setiap keadaan yang datang pada kita. Kita dapat mengendalikan hati dan pikiran ke arah yang kita inginkan. Mengendalikan hati dan pikiran selalu ke arah positif adalah awal dari pencapain kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup. Karena hati yang positif akan mengarahkan sikap hidup menjadi positif, memengaruhi kebiasaan menjadi positif, melakukan tindakan yg positif dalam kehidupan sehari hari, dan akhirnya menarik hal hal positif dalam kehidupan kita. Akhirnya akan menghasilkan kemudahan dan kejutan-kejutan positif yang tak terduga dalam kehidupan kita. Silahkan mencobanya dan rasakan manfaatnya.
Hati nurani adalah pusat makna tertinggi kehidupan manusia yang paling berpengaruh dalam diri kita. Sedangkan otak adalah hamba yang sangat patuh mengikuti setiap perintah hati nurani kita dalam kehidupan. Keberhasilan dan kebahagiaan yang menjadi impian indah banyak manusia, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh impian hatiu nurani kita, bukan ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Hati yang memiliki impian indah menjadi pemenang dalam kehidupan akan berkreasi dan mencipta berbagai hal yang positif di dunia ini dan memerintahkan otak melakukan hal yang positif pula.
Otak sebagai hambanya hati akan selalu siap menerima instruksi dari hati nurani kita. Ia patuh dan tunduk atas perintah apapun yang diberikan oleh hati kita kemudian meresponnya melalui indra kita. Hati inilah yang menjadi pusat tertinggi yang memerintahkan pikiran manusia yang akan membentuk sikap dan karakater dirinya. Intinya semua diawali dengan hati dan pikiran kita. Bagaimana sikap dan karakter seseorang itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mampu mengelola hati dan pikirannya. Keberhasilan, kegagalan serta kegelisahan itu sesungguhnya dimulai dari hati dan pikiran kita sendiri.
Dengan demikian menyikapi kesulitan, kegagalan dengan menyalahkan faktor-faktor luar sebagai penyebab terhadap kesulitan hidup bukanlah cara yang bijaksana. Yang perlu dilakukan adalah memulai mengubah dari dalam diri kita sendiri, terlepas seberapa buruknya keadaan diluar kita sendiri. Menjadi sukses dan bahagia harus dimulai dari kemampuan kita mengelola hati dan mengarahkan pikiran kita menuju tujuan hidup yang benar. Hati yang terbuka adalah pikiran yang terbuka. Perubahan dalam hati adalah perubahan dalam pikiran dan perubahan dalam hidup kita.
Dengan kecerdasannya ia mampu mengelola hati dan pikirannya. Bahkan mampu memahami bagaimana proses berpikir itu sendiri. Banyak orang kurang menyadari hal ini, tidak mengetahui, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka memiliki kemampuan mengelola hati dan pikirannya. Sehingga mereka tidak pernah sadar bahwa mereka telah menjadi budak atau hamba dari hati dan pikiran mereka sendiri. Bukannya memimpin hati dan pikirannya, malahan seumur hidupnya dikendalikan oleh hati dan pikirannya sendiri.
Faktor yang paling kuat dalam menentukan perubahan adalah hati dan pikiran Anda sendiri. Begitu Anda memiliki “ self awareness” bahwa jalan hidup Anda mesti diubah untuk selalu berbuat baik, saat itu pula perubahan dari dalam diri Anda sudah dimulai. Dengan demikian perubahan hati dan pikiran itu sesungguhnya bisa terjadi seketika. Pada saat kesadaran muncul, maka terjadi pencerahan hati, maka pola pikirpun mendapatkan input baru untuk mengubah paradigma berpikir atau sudut pandang terhadap sesuatu. Faktor yang mempengaruhi keyakinan akan kekuatan diri sendiri, adalah adanya “self awareness” yang bersumber dari kompetensi diri berupa ketrampilan teknis, pendidikan, pengalaman dan bakat kepemimpinan pribadi. Kesadaran kemampuan diri juga bisa bersumber dari keyakinan diri dalam ketrampilan antarpribadi, kepribadian, karakter dan spirit. Sumber-sumber kekuatan pribadi ini harus dikembangkan secara seimbang agar melahirkan keyakinan akan kuasa kekuatan diri.
Setiap orang harus hidup dengan hati nurani yang bersih dan menjaganya selalu serta menggunakan untuk selau berbuat baik bagi sesama. Dan harus hidup dalam hati nurani yang bersih untuk dapat mempertanggungjawabkan iman kita di hadapan banyak orang. Dengan demikian, berbuatlah baik yang sesuai dengan kata hati nurani kita. Faktor atu inforasi dari luar hanya dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan pengetahuan kita, bukan menjadi hal utama dalam kita bertindak atau mengambil keputusan. Gunakan kecerdasan dan ketulusan suara hati yang dikaruniakan kepada kita untuk memutuskan segala sesuatu dan tindakan kita.

Minggu, 15 Maret 2009

PERAN HATI NURANI DALAM ETIKA

Setiap manusia diciptakan untuk memiliki hati nurani. Oleh sebab itu setiap orang pasti memiliki hati nurani. Akan tetapi apakah hati nurani itu masih ada dan dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan, itu yang berbeda dari setiap orang. Tentu saja hati nurani antara satu orang dengan yang lainnya berbeda-beda. Orang sering merasa bimbang saat menghadapi situasi dan kadang pula terjadi konflik dalam memutuskan segala sesuatu. di satu sisi hatinya berkata iya, di satu sisi lainnya berkata tidak. Di situlah peran suara hati diperlukan. Hati nurani dapat membantu dalam mengambil keputusan. hati nurani yang masih luhur, pasti akan memutuskan hal yang tentunya baik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Dimana pun kita berada selalu ada aturan yang berlaku. Baik itu dalam keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan setiap tempat pasti ada peraturannya masing-masing. Aturan itu dibuat memang untuk mengatur segala tindakan yang kita lakukan agar tercipta suatu kondisi yang tertib dan aman. Karena apabila tidak ada aturan, orang akan cenderung bertindak seenaknya sendiri dan tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Bagaimana kita dapat mengetahui apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan aturan itu? Jawabannya tentu dengan menanyakan pada hati nurani kita. Hati nurani akan merasa bersalah dan tidak nyaman apabila apa yang kita lakukan sudah melanggar aturan.
Dalam kondisi tertentu manusia kadang dihadapkan pada suatu pilhan yang tentunya harus ia jalani. Pilihan itu pun kadang lebih dari satu dan tidak jarang pula ada yang bertentangan dengan aturan yang berlaku. Pilihan mana yang akan dipilih itu tergantung kata hati nurani mana yang lebih kuat. Namun, apabila kita melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan aturan tetapi itu demi kebaikan bersama, apakah itu salah? Pertanyaan seperti itu sering muncul atau bahkan beberapa diantara kita sudah mengalaminya. Masalah salah atau tidak itu tergantung dari sudut mana kita menilainya. Hati nurani pasti merasa bersalah kalau yang kita lakukan itu memang melanggar aturan. Saat mengambil keputusan, tanyalah pada hati nurani yang paling dalam. Jangan sampai kita melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nurani. Banyak kasus orang menyesal di kemudian hari setelah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kata hatinya dan perbuatan itu pun melanggar aturan yang ada. Oleh sebab itu, jangan mengabaikan apa kata hati kita dan ajgalah hati nurani kita agar tetap luhur, artinya dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Lalu bagaimana peran hati nurani, terutama dalam etika kerja? Dan apakah hati nurani diperlukan dalam menciptakan suatu kondisi kerja yang berpegang pada etika atau norma? Pertanyaan itulah yang akan dibahas juga dalam blog kali ini. Jika seseorang ingin bekerja dengan baik dan profesional, tentu etika dan norma kerja serta hati tentu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Peraturan kerja telah ditentukan oleh pihak manajemen dan etika kerja tentu tidak lepas dari aturan-aturan yang telah dibuat tersebut. Apabila ada yang menyimpang atau melanggar aturan tersebut, hati lah yang menjadi control terakhir. Di situlah hati diperlukan untuk menilai apakah perbuatan yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan aturan, dan jika tidak sesuai dengan aturan apakah perbuatannya itu perlu diperbaiki atau tidak.
Seorang pekerja yang baik seharusnya selalu menaati peraturan yang berlaku di tempat kerjanya. Seorang pekerja juga akan dituntut untuk selalu melakukan pekerjaan atau tugasnya dengan baik serta tidak melanggar aturan yang ada. Oleh karena itu, seorang pekerja perlu memiliki hati nurani yang peka terhadap lingkungan sekitar, terutam terhadap autran yang telah ditetapkan. Tanyakan pada hati nurani apabila akan melakukan suatu pekerjaan, apakah perbuatan itu sudah sesuai dengan aturan yang berlaku atau justru sebaliknya perbuatan itu melanggar aturan. Jika hati nurani bekerja dengan baik dan selalu mengarahkan kita ke perbuatan yang sesuai dengan aturan, niscaya kita akan berhasil.
Orang yang bekerja dengan hati dan orang yang bekerja tanpa hari, tentu berbeda jauh. Orang yang bekerja dengan hari, akan melakukan pekerjaannya dengan senang dan hasilnya juga akan maksimal. Selain itu, apa yang dikerjakannya selalu menaati aturan yang ada. Berbeda dengan orang yang bekerjanya tanpa menggunakan hati. Dia akan bekerja seenaknya sendiri dan dengan terpaksa. Ia cendrung juga untuk melanggar aturan yang ada. Dengan demikian, hasil kerjanya tentu kurang memuaskan. Sehingga hati nurani juga berperan dalam menentukan hasil kerja seseorang. Kinerja seseorang juga dapat didukung oleh adanya hati nurani. Jadi, bekerjalah dengan memegang teguh pada aturan dan selalu mendengarkan suara hati nurani kita.

http://kuliahbersama.com/